Kamis, 25 Agustus 2011

kisah saba


Bismillah.
Pernah dengar kisah Negeri Saba'? Bukan! Kisah ini bukan bagian dari kisah dongeng negeri 1001 malam atau kisah rekaan para pujangga dan sastrawan. Ini adalah cerita nyata yang menjadi episode berharga yang sarat akan hikmah dan makna dari penggalan sejarah kehidupan umat manusia.
Bangsa Saba' adalah nenek moyang etnis arab bagian selatan (Yaman dan sekitarnya) yang dikenal oleh sejarawan Islam dengan sebutan al-'Arob al-'Âribah atau al-'Arob al-Qohtoniyyah. Disebut al-Qohtoniyyah karena silsilah tertua mereka sampai kepada Saba' bin Yasyjub bin Ya'rub bin Qohton, adapun Qohton adalah anak dari Nabi Hud a.s.
Menurut Syaikh Shofiyurrohman al-Mubarokfuuriy dalam kitabnya ar-Rokhiiq al-Makhtum, Bangsa Saba' berdaulat di Yaman antara tahun 1300 SM sampai tahun 575 M berakhir ketika Ma'dikarib Yusuf dibunuh, maka dengan kematiannya terputuslah tahta kerajaan Yaman dari anak cucu al-Qohtoniy. Secara terperinci kedaulatan bangsa Saba' dibagi menjadi 4 penggalan sejarah sebagai berikut:

1. Antara 1300 s/d 620 SM.
Priode ini adalah priode Kerajaan Ma'iniyyah yang pertama kali membangun bendungan Ma'rib yang menjadi monumental terbesar bagi sejarah Yaman. Ibukotanya adalah Shirwah yang terletak di 142 km sebelah timur kota Shona'a (ibukota Yaman sekarang)
2. Antara 620 s/d 115 SM.
Priode ini dikenal dengan kerajaan Saba', pada priode ini ibukota kerajaan di pindah ke Ma'rib yang makmur, letaknya 192 km dari timur kota Shona'a
3. Antara 115 SM s/d 300 M.
Priode ini dikenal dengan priode kerajaan Himyar Pertama (Hemir) hal ini disebabkan karena qobilah Himyar yaitu anak cucu dari Himyar bin Saba' sanggup menggulingkan saudara sepupunya sendiri dari qobilah keturunan Saba' yang lain yang berkuasa pada dua priode diatas.
4. Antara 300 M s/d Masuknya Islam di Yaman tahun 628 M.
Priode ini dikenal dengan Kerajaan Himyar Kedua. Pada priode ini kedaulatan bangsa Saba' mulai terusik dari luar. Perebutan kekuasaan antara qabilah membuat mudah Romawi dan Habasyi (Abessenia) masuk dan ikut campur tangan, yang akhirnya Yaman jatuh ke lingkaran penjajahan Persia sampai datang Islam mengambilnya.

Konon tanah Saba' adalah tanah yang makmur, sejak lama mereka sudah mengenal tekhnologi pengairan (irigasi) untuk pertanian mereka hal ini ditandai dengan dibangunnya bendungan di kota Ma'rib sebagai sumber pengairan ladang dan kebun mereka. Bangsa Saba mengandalkan perdagangan dan pertanian sebagai tolak punggung kehidupan mereka, hasil tanah mereka yang melimpah ruah serta dengan kualitas yang baik menjadikan mereka bangsa yang makmur selama beratus-ratus tahun. Allah mengkisahkan kemakmuran mereka dalam surah Saba' dengan firman-Nya:
"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". Qs. Saba:15) dalm firmanNYa
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
 (Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".)
.
Al-Iman as-Syaukaniy berkata dalam tafsirnya "Fath al-Qodir": "bahwa jumhur (ulama qur'an) membaca kalimat "masakin" sebagai bentuk jama' (plural)". Maksudnya adalah bentuk plural dari "maskan" yang artinya tempat tinggal, kemudian katanya "dan yang dimaksud dengan tempat tinggal mereka dahulu adalah yang sekarang disebut dengan kota Ma'rib...". Syaikh as-Sa'diy berkata dalam menafsirkan firman Allah (dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri),"dahulu bangsa Saba' memiliki sebuah lembah yang besar yang senantiasa dilewati air bah, kemudian mereka membangun sebuah bendungan sebagai tempat penampung air maka tatkala air bah datang, air dalam jumlah besar itu tertampung disana. Kemudian mereka membagi-bagi air tersebut kepada kebun-kebun mereka yang berada disamping kanan dan kiri lembah mereka. Dua kebun besar itu memberikan mereka hasil bumi yang mencukupi (kebutuhan) mereka yang membuat mereka (hidup) senang dan bahagia...". Bahkan konon katanya, bilamana seseorang masuk kekedua kebun tersebut dengan meletakan keranjang diatas kepalanya maka keranjang tersebut akan penuh dengan berbagai macam jenis buah-buahan tanpa perlu dipetik oleh tangannya! Subhanallah sebegitu makmurnya-kah tanah Saba'.
Namun anugerah besar tersebut menjadi fitnah bagi bangsa Saba', mereka lupa diri, tertipu dengan kesuksesan dan glamournya dunia yang mereka raih. Merasa pintar, menganggap diri mereka sanggup mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan untuk diri mereka. Mereka ingkar terhadap Allah, mereka juga dustai para nabi utusan Allah, dikutip oleh Imam as-Syaukaniy dalam tafsirnya bahwa Syaikh as-Saddiy berkata: "Allah telah mengutus 13 orang Nabi kepada bangsa Saba' akan tetapi mereka mendustai semuanya" mereka ingkar dari perintah-Nya yang berkata:
"Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya". Qs. Saba:15(
كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُMereka enggan bersyukur dan bahkan dengan congkaknya mereka berpaling....
Allah berfirman:
"Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dri pohon Sidr". Qs. Saba':16.)
ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلا الْكَفُورَ
(Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. )
Mereka berpaling bahkan kuffur (ingkar), bukan hanya kuffur dari bersyukur akan tetapi mereka juga kuffur dalam keyakinan dan ibadah kepada-Nya dengan cara mendustai nabi-nabi-Nya. Maka setelah nampak jelas keberpalingan mereka dari bersyukur atas nikmat yang dianugrahkan Allah kepada mereka, Allah mengganti nikmat-Nya dengan niqmah (azab) untuk mencabut dan mengambil semua yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka. Allah mengirim Banjir Arim yang dahsyat yang menenggelamkan kebun-kebun kebanggan mereka, memporak porandakan rumah-rumah dan bangunan mereka serta memupuskan api kecongkakan didalam dada mereka.
Para mufassirin berbeda pendapat dalam memaknai kalimat "al-Arim", menurut As-Saddiy, al-Arim adalah nama bendungan tersebut, adapun Mujahid dan Ibnu Najih berpendapat bahwa al-Arim adalah air yang berwarna merah yang dikirimkan oleh Allah kedalam bendungan kemudian membelah dan menghancurkan bendungan tersebut. Sedangkan Ibnul Arabiy mengatakan bahwa yang dimaksud al-Arim adalah banjir yang dahsyat. Pastinya adalah bahwa banjir tersebut berasal dari bendungan mereka yang roboh, bendungan yang dahulu memberikan banyak kebaikan kepada mereka berubah menjadi petaka yang amat besar. Tanah Saba' berubah drastis pasca banjir tersebut, tidak ada lagi kebun-kebun yang menyejukkan udara, tidak ada lagi buah-buah yang menyegarkan mata. Keberkahan tanah Saba' telah dicabut oleh Yang Maha Kuasa, yang tumbuh disana hanya pepohonan yang tak memiliki faidah, hanya ada sedikit pohon yang tak berbuah atau pohon yang berbuah namun rasanya pahit. Semua ini disebabkan karena kekuffuran mereka yang sudah pada puncaknya. Allah berfiram dalam lanjutan ayat diatas:
ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلا الْكَفُورَ"Demikianlah kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir". Qs. Saba':17.
Kisah bangsa Saba' adalah pelajaran yang berharga bagi manusia, bahwasanya kekufuran apapun coraknya akan mendatangkan malapetaka yang besar bagi mereka. Malapetaka yang tidak hanya menghancurkan diri mereka, akan tetapi menghancurkan tanah mereka, negeri mereka, peradaban mereka bahkan kehancurannya sampai diwariskan kepada anak cucu mereka yang hidup setelahnya.
Tidaklah berlebihan menurut saya ketika kita menganalogikan negeri Saba' dengan negeri yang kita tercinta ini. Indonesia adalah negeri yang memiliki tanah yang subur, hasil buminya pun melimpah ruah, ini bukan penilaian subjektiv! karena semua mengakuinya bahkan dunia mengakui kesuburan Indonesia.
Namun hidup di negeri ini tidaklah seindah lagu Koes Plus yang berujar "bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu...... Orang bilang tanah kita tanah syurga. Tombak, kayu dan batu jadi tanaman...." Hidup di negeri ini penuh dilema dan masalah, kenapa? Bukankah seharusnya kita hidup makmur?karena tanah kita tanah subur! Bukankah seharusnya kita hidup bahagia?karena katanya tanah kita adalah tanah syurga! Marilah kita saling intropeksi diri atas segala masalah yang menimpah negeri kita ini. Mungkin kita kuffur nikmat yaitu tidak mau bersyukur kepada semua anugerah yang telah dikaruniai. Atau mungkin kita kuffur ibadah yaitu tidak mau beribadah kepada Allah. Mungkin juga kita kuffur aqidah yaitu meyakini ada tuhan selain Allah seperti halnya meyakini tekhnologi dan demokrasi adalah tuhan yang akan memberikan kebahagiaan hidup kepada kita. Atau bahkan ketiganya serempak ada pada diri kita, pada tiap individu negeri ini. Cukuplah Allah berfirman :
"Dan (ingatlah) ketika tuhan-mu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat". QS.Ibrohim:8.
Wallahu A'lam.

0 200 komentar:

Posting Komentar

Ad Ad Ad

Ad