Senin, 19 November 2012
6 Juni dan Kisah Kelahiran Bung Karno
10.09
No comments
Soekemi
Sosrodihardjo seorang guru muda dari Surabaya yang ditugaskan untuk
mengajar di Sekolah Rakyat (setingkat SD) di Bali, tepatnya di Banjar
Paketan-Liligundi-Buleleng, Singaradja Bali. Setelah mengajar Sukemi
senang sekali berjalan-jalan mengelilingi desa dan melihat kehidupan
sosial masyarakatnya. Bahkan Soekemi sering mencatat bagaimana rakyat
desa bergerak.
Catatan : Nama Ibunda Sukarno adalah Ni Nyoman Srimben, pada tahun 1954 sebagai Presiden RI, Sukarno menghadiahkan nama Ida Ayu atau Idayu kepada Ibunda-nya dengan disaksikan banyak pejabat RI dan dari negara sahabat, sebuah penghargaan terbesar dari seorang anak kepada ibunya.
Satu
hal yang diperhatikan Soekemi adalah budaya dari banjar Bali yang amat
marak itu, sebuah kegiatan sakral dan penuh harmoni. Tiap ada
upacara-upacara suci di Pura Bali sendiri ada tarian sakral bernama Tari
Rejang. Tarian ini ditarikan
khusus perempuan dengan gerakan amat halus, tarian ini bisa amat
indahnya bila dilatari bulan purnama dan malam bersih penuh bintang,
sehingga penontonnya bisa menjadi amat tenang, khidmat dan penuh syukur
pada Tuhan.
Suatu
saat Soekemi menonton bersama temannya yang seorang guru juga dari
Jawa, tarian ini. Ia terpesona dengan dua orang perempuan cantik, tapi
ia tak tau siapa namanya kedua perempuan itu. Namun kemudian ada
kesempatan dimana Soekemi melempar bunga, dan lemparan bunga itu
mengenai seorang penari cantik dengan mata bulat bulan ‘Ni Nyoman
Srimben’. Ia penari yang amat cantik dengan bibir yang tebal manis, dan
alis mata yang amat hitam, tersenyum pada Soekemi, saat itulah cinta
pertama jatuh pada dua hati anak manusia.
“Perkenalan
adalah takdir, menjadi teman adalah pilihan dan mencintai seseorang
kerap diluar kendali dari diri seorang yang sedang jatuh cinta” Soekemi sudah jatuh cinta, ia telah memilih dan ia sanggup menghadapi resikonya apa saja.
Rupanya
Ni Nyoman Srimben juga jatuh hati pada pemuda dari Jawa ini, -“Ia
seorang guru ayah” kata Nyoman Srimben kepada ayahnya I Nyoman Pasek
ketika menghaturkan cerita tentang pemuda pilihan hatinya. I Nyoman
Pasek tentunya menolak “dia berbeda agama dengan kita” Soekemi sendiri
beragama Islam, dan Nyoman Pasek menghendaki Srimben menikah saja dengan
pemuda dari banjar-nya sendiri ketimbang pemuda yang berasal dari Jawa,
dari tempat yang jauh.
Tapi
cinta telah mengikat dua perasaan ini, cinta telah menjadikan dua
cerita antara Soekemi dan Srimben sebagai naluri aksara puisi, Soekemi
melihat dua mata Srimben, ada getaran, bukan saja ia melihat masa depan
dirinya sendiri, tapi masa depan yang lebih besar, ‘namun ia tak
mengerti’. Srimben sendiri melihat Soekemi juga dengan perasaan sama,
ada perasaan pertanggungjawaban bahwa cinta ini harus diteruskan,
-apapun resikonya-.
Lalu
Soekemi bertanya pada Srimben “Apakah kau mencintaiku” lalu Srimben
diam lama dia melihat sawah luas membentang hijau di desanya, udara
langit putih bersih dan daun-daun pohon kamboja mengayun lembut.
–Srimben mengangguk penuh arti-. Akhirnya Soekemi berani melamar menikah
pada ayah Srimben, Bapak Nyoman Pasek. Namun Nyoman Pasek secara halus
menolak.
Akhirnya dipilih suatu sikap yang berani, yaitu : Ngarorod
atau Kawin Lari. Di Tengah Malam Soekemi membawa lari Srimben, lalu
dikejar-kejar penduduk desa dan Soekemi berlindung di tempat seorang
Polisi. Penyelesaiannya adalah ke Pengadilan, di Pengadilan tampaknya
cinta dua anak manusia ini tak bisa dipisahkan, akhirnya semua orang
yang menyaksikan rela dengan ikhlas menyatukan dua perbedaan ini karena
keberanian dan pertanggungjawaban Soekemi serta Srimben dalam
menjalankan cintanya, Soekemi hanya dimintai denda atas tindakannya
melakukan Ngarorod, dan keluarga Srimben menyetujui Soekemi menikah dengan Ni Nyoman Srimben.
Pernikahan
ini berlangsung damai, tiba-tiba datang surat dari penilik sekolah yang
mengabarkan bahwa Soekemi harus pindah ke Blitar dan bertugas disana.
Ni Nyoman Srimben ikut Soekemi, dengan menumpang perahu layar mereka
mengarungi selat Bali menuju Jawa, tampak dari kejauhan pulau Jawa
berkabut, keindahan pulau Jawa dengan ratusan nyiur di pantai membuat
Srimben merasa bergetar, ada suara lembut menyapa kalbunya ‘Disinilah
masa depanmu bermula’.
Di
Blitar, Soekemi dan Srimben hidup amat sederhana, seperti layaknya
penduduk Jawa yang lain, hidup dalam suasana keprihatinan suasana orang
yang dijajah, tiap pagi Srimben harus menumbuk padi, menjaga tumbukannya
tidak dimakan ayam, ia mencuci dan segala bentuk kegiatan lainnya, ia
mencintai suaminya dengan amat sangat yang tiap hari dengan sepeda warna
hitam itu pergi ke sekolah mengajar. Di tahun pertama pernikahannya,
lahirlah seorang anak perempuan dan diberikan nama sebagai Soekarmini.
Gembiralah rumah kecil pak guru itu dengan hadirnya anak perempuan yang
lucu.
Suatu
siang Srimben bermimpi tentang bulan purnama terang sekali, ia bermimpi
berjalan di ruang yang bergolak, kemudian melanjutkan ke ruang yang
tenang. Ia berdoa semoga mimpinya ini berjalan ke arah kebaikan, tak
lama setelah mimpinya ini ada, ia hamil. Di tengah kehamilannya ini ia
kerap bermimpi tentang sinar matahari berwarna kuning muda bangkit dari
balik cakrawala, dan entah kenapa Srimben sangat menyukai warna pagi
matahari. Soekemi senang bukan kepalang, melihat isterinya hamil lagi.
Ia mengelus-elus perut isterinya dan membacai surat al fatihah, ia
berharap anak ini akan menjadi berguna bagi keluarga dan bangsanya. Anak
ini akan dipenuhi oleh rasa cinta, dipenuhi keberanian dalam menghadapi
kehidupan dan ketabahan dalam penderitaan untuk mencapai tujuan. Anak
ini harus menjadi seorang yang kuat, begitu harapan Soekemi.
Lalu
tanggal 6 Juni 1901, jam 6 pagi meledaklah suara tangis bayi, Soekemi
berdiri dari tempat duduknya, ia mendatangi dukun bayi yang membantu
proses kelahiran…”Anakmu laki-laki, Pak Guru…laki-laki” kata dukun bayi
itu dengan wajah senang seraya memberi selamat dan Soekemi dengan dada
berdegup kencang berlari ke sudut rumah lalu mengucapkan syukur.
Malamnya
Soekemi menuliskan surat kepada keluarga isterinya di Buleleng dengan
kata-kata singkat : “Anakku telah lahir, anak kedua, dia laki-laki dan
kuberikan nama Koesno. Semoga ini menjadi awal yang baik dari semuanya”.
Tulis Soekemi di tengah pelita yang redup.
Bayi
itu sehat, gemuk dan pipinya merah. Bayi ini sangat tampan. Bahkan
beberapa kerabat Soekemi yang mengunjungi terpesona dengan ketampanan
bayi ini. Satu hal yang sangat disenangi Srimben dalam merawat bayi ini
adalah menghadapkannya ke timur matahari, dengan cahaya matahari yang
merekah, wajah tampan bayi merah ini tertimpa alur-alur cahaya pagi lalu
Srimben berucap “ Lihatlah anakku, lihatlah sang Fajar bangkit dari
peraduannya, kau lahir ketika sang fajar bangkit dan menerangi dunia,
kau lahir bukan saja membawa hari baru, tapi sebuah jaman baru…..”
Bung Karno semasa sekolah di HBS (Sumber Photo : Yayasan Idayu)
Kelak
di kemudian hari ucapan Srimben ini semacam profetik (ramalan) yang
dinisbahkan pada diri anak ini, seorang anak yang kemudian sakit-sakitan
dan diganti nama menjadi SUKARNO.
Sukarno
kecil tumbuh dengan gembira, ia suka berenang-renang dikali, memancing
dan bermain gasing. Ia tak mau kalah dalam permainan “Bagi Sukarno, ia
tak boleh dikalahkan” kenang Sukarno kelak dalam buku otobiografinya
yang ditulis Cindy Adams.
Karena
kemiskinan Sukarno kerap hidup kekurangan, ia harus menumbuk beras
sendiri, ia berjalan kaki ke sekolah tanpa sepatu. Yang paling sedih
diingat Sukarno adalah ketika hari menjelang lebaran, banyak anak-anak
bermain petasan, ledakan petasan dimana-mana, ia ingin membakar petasan,
ia iri teman lainnya bisa membeli dan membakar petasan menyambut malam
takbiran. Sukarno ingin merayakan menjelang lebaran dengan petasan “aku
ingin petasan…ingin sekali” tapi Sukarno kecil tau, ayahnya tak punya
uang, ia tak tega meminta pada bapaknya. Kemudian yang ia lakukan adalah
menangis di kamar, ia melingkari wajahnya dengan bantal yang penuh air
mata, ia ingin petasan. ‘keinginan anak-anak yang lumrah’. Tak
lama ketika Sukarno menangis, datanglah seseorang teman ayahnya
mengetuk pintu dan memberikan sebungkus petasan pada Soekemi “ini untuk
anakmu” lalu Soekemi memanggil Sukarno dan memberikan sebungkus petasan
itu “Ini untuk kamu, hati-hati mainnya” Bukan main gembira hati Sukarno,
kenangan ini ia tak bisa lupakan seumur hidupnya, ia juga sadar
‘tangisan yang tulus adalah doa yang didengar Tuhan”. Dan memang
sepanjang hidupnya Sukarno kerap menangis diam-diam untuk bangsanya.
Sukarno
dibawa ayahnya ke rumah indekost HOS Tjokroaminoto di Jalan Plampitan,
Surabaya.. saat itu Sukarno diterima di HBS Surabaya, Pak Tjokro adalah
kawan dekat ayah Sukarno, “Jagalah baik-baik anakku” kata Soekemi, Pak Tjokro dengan kumis yang tegas itu memegang pundak Sukarno “Nah, kau sekarang di HBS, kau harus bertanggung jawab bukan saja pada hidupmu, tapi juga bangsamu”
nasihat Pak Tjokro dengan mata tajam dan wajah yang teduh. Sukarno
mengangguk pelan, lalu ia diantarkan ke kamarnya yang gelap, kecil dan
agak kotor, -karena kamar yang lain sudah penuh-. Tapi Sukarno menerima
dengan gembira, ia memang punya watak selalu senang dalam keadaan
apapun. Bagi Sukarno ‘mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa,
bergembiralah di tiap hidupmu, seberat apapun
masalahmu…gembiralah…gembiralah” itu prinsip Sukarno dalam menjalani
kehidupan.
Banyak
kawan-kawan yang mengenang Sukarno adalah seorang pelajar yang cerdas,
pembaca buku, pintar menggambar – salah satu yang paling diingat adalah
ketika di kelas sedang ada pelajaran menggambar bebas, Sukarno muda
menggambar anjing dan kandangnya, gambar anjing itu amat hidup dan
membuat guru Belandanya terperangah, ia memamerkan gambar Sukarno- tapi
nilai gambar itu tetap tidak boleh tinggi dari gambar anak Belanda,
diam-diam Sukarno mulai tau bahwa bangsanya terjajah.
Sukarno
cepat bila mengerjakan PR, setelah selesai mengerjakan PR ia mengusili
kawan kost yang lain, hingga kalau malam banyak kamar ditutup pintunya
‘untuk menghindari gangguan Sukarno’. Akhirnya Sukarno iseng-iseng
pidato sendirian di kamar, ia meniru seorang dalang dan meniru Pak
Tjokro yang sedang berpidato. Bila Sukarno kecil berpidato ia bergerak
seakan-akan seorang aktor yang bisa menggenggam dunia,
“Kebebasan…Kebebasan..dan Kebebasan” teriak Sukarno meniru Danton tokoh
revolusi Perancis dalam khayalannya itu. Lalu anak-anak melongok keluar
jendela kamar dan dengan malas-malasan kembali lagi ke meja belajarnya
sambil mengomel “Ah, Paling itu Si No…ingin menguasai dunia” kata
mereka.
Dan
memang Sukarno kelak menguasai dunia, dibawah pesonanya banyak
negara-negara terinspirasi untuk merdeka, dibawah jalan hidupnya
kemerdekaan Indonesia direbut, bangsa Indonesia memiliki martabatnya,
merebut kehormatannya dan berdiri sebagai bangsa besar di dunia. Dan Sukarno-lah alasan terbesar bangsa ini berdiri-.
oleh:(Anton DH Nugrahanto)
oleh:(Anton DH Nugrahanto)
Catatan : Nama Ibunda Sukarno adalah Ni Nyoman Srimben, pada tahun 1954 sebagai Presiden RI, Sukarno menghadiahkan nama Ida Ayu atau Idayu kepada Ibunda-nya dengan disaksikan banyak pejabat RI dan dari negara sahabat, sebuah penghargaan terbesar dari seorang anak kepada ibunya.
Jumat, 16 November 2012
ARTIKEL AKAR WANGI
11.56
No comments
Akar Wangi
Sumber: http://www.atsiri-indonesia.com/Nama Tanaman : Akar wangi
Nama Latin : Vetiveria zizanoides
Sumber Minyak : Akar
Deskripsi Tanaman:
a. Daerah produksi
Daerah di pulau Jawa yang menghasilkan
akar vetiver adalah daerah Garut (Jawa Barat) dan daerah Wonosobo (Jawa
Tengah). Tanaman tersebut diusahakan oleh rakyat dengan luas tanah
sekitar satu hektar atau lebih, dan ada yang mencapai 20 hektar setiap
petani. Di samping itu, tanaman akar wangi diusahakan sebagai tanaman
sela di perkebunan.
b. Kondisi tanah
Tanah yang cocok untuk pertumbuhan akar
wangi adalah tanah yang berpasir, atau tanah ab vulaknik. Pada tanah
tersebut, akar dengan mudah dicabut tanpa ada yang tertinggal.
Penanamannya kurang baik di atas tanah yang padat, keras dan berlempung
karena akarnya sulit dicabut, dan menghasilkan akar dengan rendemen
minyak yang rendah. Tanah vulkanik muda terdapat pada lereng-lereng
pegunungan, dengan ketinggian sekitar 5000 kaki di atas permukaan laut.
c. Penanaman
Tanaman akar wangi Jawa (Andropogon
muricatus Rozt) termasuk tanaman akar wangi tidak berbunga. Menurut
penelitian yang dilakukan di Botenzorg (sekarang Bogor), vetiver tidak
boleh ditanam di tempat yang teduh, karena akan menyebabkan pengaruh
yang kurang baik terhadap pertumbuhan sistim akar. Di pulau Jawa,
tanaman akar wangi sering ditanam secara tumpangsari dan jarang
dilakukan penanaman kembali (peremajaan) pada tempat yang sama. Satu
hektar tanaman akar wangi menghasilkan 1000 kg akar kering udara. Jumlah
tersebut bervariasi, dan tergantung dari jenis tanah dan kondisi
lingkungan, kadan-kadang jenis cendawan tertentu tumbuh dalam akar yang
merusak tanaman dan menurunkan produksi akar.
Teknologi Budidaya :
a. Penyiapan Lahan dan Penanaman
Lahan untuk pertanaman
akar wangi hendaknya bersih dari gulma. Jika sudah bersih, tanah dibuat
lubang tanam (20x20x20)cm. Jarak tanam tergantung kesuburan dan
kemiringan tanah. Pada kemiringan 15-30%, jarak tanam berkisar antara
(60×20)-(50×100)cm. Dua minggu sebelum tanam, lubnag diisi pupuk
kandang/kompos sebanyak 2 kg/lubang. Kedalaman tanam tidak lebih dari 4
cm, karena akan mengurangi persentse tumbuh tanaman.
b. PemeliharaanPenyulaman
Penyulaman dilakukan paling lambat 2
minggu setelah tanam. Tanaman yang tidak tumbuh biasanya terlihat pad
umur 1-2 minggu setelah tanam, terutama bila ditanam berupa bibit
sobekan dari bonggol yang ditanam langsung atau anakan tanpa akar.
Khususnya di Indonesia, akar wangi yang
baru dipanen, harus di cuci di sungai atau dipancuran, kemudian dijemur
langsung dibawah sinar matahari atau diangin-anginkan pada tempat yang
agak teduh. Bila ditujukan pada ekspor, maka akar kering dipres dan
diikat sehingga berbentuk bundel dan berat setiap bundel sekitar 100 kg,
kemudian dikemas dalam keranjang. Petani penanam menjual akar wangi
trsebut kepada pedagang perantara, untuk selanjutnya dijual ke pabrik
penyulingan atau eksportir yang berada di Jakarta dan Surabaya.
Penyiraman
Pada musim kemarau, penyiraman diperlukan setiap hari selama 2 minggu, sampai akar-akar baru tumbuh dan menempel ke tanah.
Pemupukan
Petani di Garut umumnya tidak melakukan pemupukan pada tanamannya, kecuali jika ditumpangsarikan dengan sayuran.
Pemangkasan
Sama halnya dengan pemupukan, pemangkasan biasanya dilakukan pada tanaman yang ditumpangsarikan dengan tanaman sayuran.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Hama dan penyakit pada akar wangi belum menjadi masalah yang penting, sehingga pengendaliannya jarang dilakukan.
Penanganan Pasca Panen :
Waktu pemanenan tergantung pada musim.
Bila areal yang sama akan ditanami kembali, maka pemanenan harus
dilakukan pada musim hujan, agar dapat tumbuh dengan baik. Akar wangi
yang diperoleh dari petani berupa akar kering panen yang masih
mengandung bonggol dan tanah yang menempel. Sebelum penyulingan,
biasanya akar wangi dikeringkan dan dibersihkan terlebih dahulu untuk
meningkatkan rendemen dan mutu minyak akar wangi yang dihasilkan.
Pemotongan Bonggol
Bonggol dapat dipotong dengan alat pemotong secara manual dengan golok atau dengan menggunakan mesin pemotong (perajang).
Pencucian Akar
Akar tanpa bonggol dicuci dalam air
(dalam air mengalir) sambil dikibaskan/dikeprik sampai semua tanah yang
menempel terlepas dari akar. Air yang menempel pada akar juga dikibaskan
atau ditiriskan hingga siap dijemur.
Penjemuran Akar
Pengeringan dilakukan di atas lantai
penjemur yang diberi alas tikar, atau bambu anyam dengan ketebalan 20-30
cm. Penjemuran dilakukan dari jam 09.00-14.00 dan dibolak-balik
sebanyak 2-3 kali selama kurang lebih 2 hari. Penjemuran telah selesai
jika menghasilkan akar wangi kering dengan kadar air 15%.Pengeringan
akar membutuhkan waktu lebih singkat sehingga kemungkinan minyak yang
menguap selama penjemuran lebih kecil.
Penyimpanan
Jika tidak segera disuling, akar wangi
dikemas dalam karung plastik dan ditutup rapat, kemudian disimpan dengan
cara ditumpuk dalam gudang yang tidak tembus cahaya matahari, tidak
lembab, suhu 20-30oC, dan letaknya jauh dari ketel suling. Tujuannya
adalah untuk mengurangi penguapan minyak selama penyimpanan.
Perajangan Akar
Tujuan perajangan akar adalah untuk
mengurangi sifat kamba akar, mempermudah keluarnya minyak dari dalam
akar melalui proses hidrodifusi. Merajang dapat dilakukan dengan golok
atau dengan mesin khusus perajang akar, dengan panjang sekitar 10-15 cm.
Akar setelah dirajang harus segera
dimasukkan ke dalam ketel suling untuk menghindari penguapan minyak dari
bagian akar yang dipotong.
AKAR WANGI sebagai Penghasil Minyak Atsiri
Sumber: http://www.sinartani.com/
Akar wangi
adalah bagian dari jenis tanaman minyak yang dapat disuling dan
menghasilkan minyak atsiri. Salah satu komoditi ekspor Indonesia,
memiliki pangsa pasar tingkat dunia dengan harga cukup menawan.Tanaman
akar wangi boleh dianggap tanaman yang “mati tidak hidup pun enggan”.
Padahal tidak selamanya bertanam akar wangi akan merugikan, bahkan
sebaliknya, tanaman akar wangi merupakan salah satu tanaman yang mampu
mendukung upaya pelestarian lingkungan (misalnya menahan
erosi).Sementara itu diketahui bahwa nilai ekonomis tanaman akar wangi
terletak pada akarnya yaitu sebagai bahan baku penghasil minyak atsiri.
Kualitas dan kuantitas minyak akar wangi bergantung dari keadaan tanaman
akar wangi itu sendiri dan cara pembudidayaan yang dilakukan oleh
petani.Kendati tanaman akar wangi cukup potensial untuk diambil
minyaknya tetapi hingga saat ini belum menarik perhatian pihak
pemerintah dan investor. Dengan demikian perkembangan tanaman akar wangi
hanya di daerah-daerah tertentu saja. Satu-satunya daerah sentra
produksi tanaman akar wangi adalah di Kabupaten Garut, Jawa Barat
terutama di daerah sekitar hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) Cimanuk,
tepatnya di sekitar Kecamatan Semarang, Leles, Bayongbong, Cilawe dan
Cisurupan.Selain di daerah Garut, tanaman akar wangi pernah coba
dikembangkan di sekitar Propinsi Jawa Tengah, seperti di daerah lereng
gunung Merapi. Bahkan sebuah perusahaan swasta juga pernah mengembangkan
akar wangi di lereng gunung Unggaran, seperti di Kecamatan Ambarawa dan
Somowono. Namun karena berbagai sebab, petani kurang berminat sehingga
perkembangan tanaman akar wangi di Jawa Tengah mengalami
kemacetan.Dengan demikian Kabupaten Garut tetap menjadi sentra penghasil
minyak akar wangi yang mampu memasok 90% lebih dari total produksi
minyak akar wangi Indonesia, yaitu sekitar 60-75 ton pertahun.
Asal Usul Akar Wangi
Tanaman akar wangi (vetiveria zizaniodes)
berasal dari India, Birma dan Srilangka. Namun tidak diketahui secara
pasti sejak kapan tanaman akar wangi dibudidayakan di Indonesia,
khususnya di daerah Garut, Jawa Barat. Yang pasti kini, akar wangi
merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang diandalkan sebagai
gantungan hidup sebagian warga Garut.
Akar Wangi
Sumber: http://www.kehati.or.id/
Spesies : Vetiveria zizanioides Stapf.
Nama Inggris : Vetiver (grass), khus, khus-khusNama Indonesia : Akar wangi
Nama Lokal : Larasetu (Jawa), usar (Sunda)
Deskripsi :
Rumput menahun yang membentuk rumpun yang
besar, padat dengan arah tumbuh tegak lurus, kompak, beraroma,
bercabang-cabang, memiliki rimpang dan sistem akar serabut yang dalam.
Rumpun tumbuh hingga mencapai tinggi 1—1.5(—3) m, berdiameter 2—8 mm.
Daun berbentuk garis, pipih, kaku, permukaan bawah daun licin.
Perbungaan malai (tandan majemuk) terminal, tiap tandan memiliki panjang
mencapai 10 cm; ruas yang terbentuk antara tandan dengan tangkai bunga
berbentuk benang, namun di bagian apeksnya tampak menebal.
Distribusi/Penyebaran :
Vetiveria zizanioides tumbuh secara alami
di tempat-tempat berpayau di utara India, Bangladesh, Burma (Myanmar)
dan kemungkinan telah dapat tumbuh secara alami di banyak tempat di
kawasan Asia Tenggara. Vetiver telah dibudidayakan di India selama
berabad-abad dan saat ini telah tumbuh di seluruh daerah tropis dan
banyak tempat di daerah subtropis. Tumbuhan ini ditanam untuk diambil
minyaknya pada beberapa tempat di dunia seperti Haiti, Jawa Timur,
India, Réunion, Cina dan Brazil. Informasi penggunaan vetiver untuk
mengendalikan erosi tersebar pertamakali dari India lalu ke Caribbean
dan Fiji kemudian ke banyak daerah-daerah tropik lain, termasuk semua
negara di Asia Tenggara. Tersebar di seluruh wilayah Indonesia, sentra
produksi minyak akar wangi terutama di Kabupaten Garut, Jawa Barat dan
Kabupaten Wonosobo, Jawa
Habitat :
Vetiveria zizanioides dapat tumbuh baik
pada kondisi lingkungan sangat basah atau sangat kering, dengan curah
hujan tahunan berkisar pada (300—)1000—2000 (—3000) mm. Rata-rata suhu
maksimum yang mendukung pertumbuhannya adalah pada rentang 25°—35°C;
namun suhu absolut maksimumnya dapat mecapai 45°C. Vetiveria zizanioides
tetap dapat tumbuh pada kondisi tanah tandus dan pada tipe tanah yang
beragam. Vetiveria zizanioides dewasa dapat tumbuh pada tanah yang
mengandung garam. Meskipun telah mengalami kebakaran, terinjak-injak,
ataupun habis karena dimakan hewan, jenis rumput ini masih dapat tetap
tumbuh.
Perbanyakan :
Vetiveria zizanioides diperbanyak secara
vegetatif dengan memecah rumpun yang terdiri dari satu atau beberapa
tunas berukuran 15—20 cm dan meliputi beberapa bagian akar. Regenerasi
tumbuhan dengan cara kultur jaringan (in vitro) yang telah berhasil
dilakukan di Mauritius mendukung produksi jenis ini untuk tujuan
komersial.
Manfaat tumbuhan :
Rumpun dan akar rumput Vetiver mengandung
minyak esesial yang dapat dijadikan parfum, sabun dan penghilang bau
tidak sedap. Minyak Vetiver dan akarnya dapat berkhasiat sebagai
penangkal serangga. Di sebelah selatan India, secara tradisional, rumput
Vetiver ditanam di sepanjang jalur tertentu sebagai batas permanen
antar lahan. Sedangkan di Jawa, rumput Vetiver ditanam pada
tempat-tempat miring. Kemampuan rumput Vetiver untuk digunakan sebagai
pengontrol erosi telah meluas di seluruh penjuru daerah tropis, sejak
tahun 1980-an. Di Jawa Tengah, penanaman kombinasi rumput Vetiver,
rumput Gajah, pohon Sengon dan Kara benguk dapat mengendalikan erosi,
stabilitas lereng dan memacu perkembangan sifat fisik tanah bekas
letusan gunung berapi di Gunung Merapi. Daun akar wangi dapat di pakai
sebagai pengusir serangga. Namun akar merupakan bagian utama sebagai
penghasil minyak vetiveria oil. Selain itu, digunakan juga sebagai bahan
dalam industri kosmetika, parfum dan sabun mandi.
Sinonim :
Phalaris zizanioides L., Andropogon muricatus Retzius, Andropogon zizanioides (L.) Urban .
Sumber Prosea :
19: Essential-oil plants p.167-172 (author(s): Guzman, CC de; Oyen, LPA)
Kategori : Biopestisida








